Musim Panas yang Mencuri Alasan
Musim Panas yang Mencuri Alasan
Tadinya,
saya hanya seorang ayah
yang mengantar anak perempuan
kembali menjemput mimpinya.
Tidak ada rencana lain.
Hanya koper,
beberapa nasihat yang mungkin akan dilupakan,
dan doa-doa kecil
yang diam-diam saya selipkan
di antara lipatan pakaian.
Tetapi Seoul rupanya licik.
Kota itu berpura-pura biasa saja
saat pesawat mendarat.
Lalu perlahan,
seperti penjual yang pandai merayu,
ia menawarkan langit biru,
angin hangat,
dan taman-taman luas
yang membuat kaki enggan pulang.
“Sebentar saja,”
kata saya.
Lalu satu taman menjadi dua taman.
Satu jalan menjadi beberapa kilometer.
Satu foto menjadi seratus foto.
Musim panas di kota itu
seolah diciptakan khusus
untuk membuat orang lupa
bahwa ia sebenarnya hanya sedang mengantar anak.
Jalan-jalan dipenuhi tawa.
Pepohonan berdiri rapi
seperti panitia penyambutan.
Orang-orang berlalu-lalang
dengan wajah yang tidak sedang terburu-buru.
Aneh.
Di banyak kota,
orang berjalan seperti sedang mengejar sesuatu.
Di sini,
mereka berjalan
seperti sedang menikmati hidup.
Dan makanan…
Ah, makanan.
Entah bagaimana,
semangkuk sederhana bisa terasa istimewa.
Sayurannya segar.
Kuahnya hangat.
Dagingnya lembut.
Makan banyak,
tetapi hati tetap merasa sehat.
Sebuah keajaiban
yang sampai hari ini
belum berhasil saya temukan penjelasan ilmiahnya.
Anak saya sibuk
menata masa depan.
Saya sibuk
menata jadwal wisata dadakan.
Ia mencari ruang kelas.
Saya mencari kafe.
Ia membeli buku.
Saya membeli alasan
untuk memperpanjang jalan-jalan.
Maka ketika ada yang bertanya,
“Sedang apa di Seoul?”
Saya menjawab dengan jujur:
“Mengantar anak sekolah.”
Dan itu memang benar.
Hanya saja,
saya lupa menambahkan
bahwa dalam perjalanan itu
saya juga sedang diantar
oleh musim panas,
oleh taman-taman yang hijau,
oleh makanan yang ramah,
oleh kota yang ceria,
dan oleh kebahagiaan sederhana
yang datang tanpa undangan,
lalu duduk santai di sebelah saya,
sambil berkata,
“Tenang saja, Pak…”
“Anak sedang mengejar mimpinya.”
“Sekarang giliran Bapak menikmati perjalanan.”
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment