NAKHODA DI TENGAH BADAI

NAKHODA DI TENGAH BADAI


Laut sedang muram.
Angin datang dari segala arah
membawa kabar tentang harga yang naik,
tentang rupiah yang gemetar,
tentang dapur-dapur yang mulai menghitung
berapa sisa beras untuk esok pagi.

Dan negeri ini—
sebuah kapal tua bernama harapan—
terus berlayar
di tengah ombak yang tak mengenal belas kasih.

Kadang kapal ini tampak gagah dari kejauhan,
benderanya masih berkibar,
lampunya masih menyala.
Namun di ruang bawah dek,
ada rakyat yang diam-diam menambal kebocoran
dengan doa dan kesabaran.

Ada ibu-ibu
yang mengurangi lauk agar anaknya tetap makan.
Ada ayah-ayah
yang tersenyum di depan keluarga
meski dadanya penuh tagihan.
Ada anak muda
yang membawa ijazah
seperti kompas yang kehilangan utara.

Sementara badai terus membesar
bukan hanya oleh amukan langit,
tetapi juga oleh kegaduhan di dalam kapal sendiri—
terlalu banyak tangan menarik kemudi,
terlalu banyak suara ingin terdengar paling benar,
hingga arah perjalanan kadang kalah
oleh riuh tepuk tangan dan kepentingan.

Di atas anjungan,
nakhoda berdiri memegang kemudi.
Rakyat tak menuntut laut selalu tenang.
Mereka tahu:
bahkan samudra pun punya musim gelap.

Tetapi rakyat ingin satu hal—
kejujuran arah.

Sebab kapal tak akan karam
karena badai semata,
melainkan ketika nakhodanya sibuk
meyakinkan semua orang bahwa langit cerah
padahal petir terlihat jelas di mata awak kapal.

Di masa seperti ini,
yang dibutuhkan bukan pidato yang panjang,
melainkan keberanian untuk berkata:

“Ya, ombak besar sedang datang.
Ya, kapal sedang berat.
Tetapi kita akan melewatinya bersama.”

Karena badai tidak pernah kalah
oleh orang yang pura-pura kuat.
Badai hanya tunduk
kepada mereka yang saling menjaga.

Anak buah kapal harus berhenti saling berebut ruang.
Tak boleh ada yang menimbun pelampung
sementara yang lain tenggelam.
Tak boleh ada yang menari di pesta cahaya
ketika sebagian penumpang kehilangan lentera.

Dalam badai,
jabatan hanyalah seragam basah.
Yang berarti hanyalah
siapa yang mau memegang tali paling keras
agar kapal tidak pecah.

Dan nakhoda—
ia harus lebih dahulu rela kehujanan.
Lebih dahulu berjaga saat semua tertidur.
Lebih dahulu mendengar suara retak
di dasar kapal.

Sebab pemimpin sejati bukan yang paling keras bicara,
melainkan yang paling tenang
saat semua orang panik.

Lalu kapan badai ini berakhir?

Tak ada yang benar-benar tahu.
Kadang badai reda perlahan,
bukan karena laut iba,
tetapi karena manusia belajar
mengendalikan ketakutannya.

Karena badai ekonomi bukan hanya soal angka.
Ia juga tentang percaya.
Tentang apakah rakyat masih yakin
bahwa esok layak diperjuangkan.

Dan bila suatu hari
matahari akhirnya muncul
di ufuk yang lama hilang,
kapal ini selamat melewati gelombang,
maka jangan mabuk kemenangan.

Jangan lupa
bahwa kapal pernah hampir tenggelam.

Jangan kembali serakah
setelah selamat dari lapar.
Jangan kembali congkak
setelah ditolong doa rakyat kecil.

Sebab laut selalu mengingat.
Ia bisa tenang hari ini,
dan murka kembali esok hari.

Maka setelah badai berlalu,
bangunlah kapal yang lebih kuat:
dengan kayu keadilan,
paku kejujuran,
layar keberpihakan,
dan kompas nurani.

Agar kelak,
ketika generasi baru berlayar,
mereka tidak lagi mewarisi
kapal yang megah di luar
tetapi rapuh di dalam.

Dan semoga pada akhirnya kita mengerti:

bahwa tujuan terbesar sebuah kapal
bukan sekadar tiba di pelabuhan,
melainkan memastikan
tak ada seorang pun
yang ditinggalkan tenggelam di perjalanan.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts