PANCASILA BELUM GAGAL

PANCASILA BELUM GAGAL
(Tetapi Kita Belum Selesai Menjadi Bangsa)


Pada suatu pagi,
di antara gema palu sidang dan desir sejarah,
lahirlah sebuah janji
yang lebih besar daripada sebuah negara.

Bukan senjata.
Bukan mahkota.
Bukan pula takhta kekuasaan.

Melainkan lima kalimat sederhana
yang hendak menjahit ribuan pulau,
ratusan bahasa,
dan jutaan perbedaan
menjadi satu rumah bernama Indonesia.

Namanya:
Pancasila.


Hari ini kita merayakan hari lahirnya.

Bendera berkibar.
Pidato diperdengarkan.
Slogan kembali diucapkan.

Tetapi sejarah selalu bertanya lebih dalam
daripada seremoni.

Ia tidak bertanya:
“Berapa kali engkau menyebut Pancasila?”

Ia bertanya:
“Berapa jauh engkau menghidupinya?”


Kita mengaku bertuhan.

Tetapi kadang rumah ibadah penuh,
sementara kejujuran kosong.

Kita mengangkat tangan dalam doa,
namun masih ada tangan
yang mengambil hak rakyat secara diam-diam.

Kita fasih berbicara tentang surga,
tetapi sering lupa
membawa sedikit surga itu
ke dalam kehidupan sesama.

Dan langit Indonesia
masih menunggu jawaban.


Kita mengaku beradab.

Tetapi di ruang-ruang yang bising,
manusia mudah berubah menjadi angka.

Kemiskinan menjadi statistik.
Pengangguran menjadi tabel.
Penderitaan menjadi laporan.

Padahal di balik setiap angka
ada wajah,
ada air mata,
ada harapan
yang tidak boleh diabaikan.


Kita mengaku bersatu.

Namun setiap musim perebutan kekuasaan,
tembok-tembok baru dibangun.

Bukan dari batu,
melainkan dari prasangka.
Bukan dari semen,
melainkan dari kebencian.

Kita lupa bahwa Indonesia
tidak dibangun untuk memenangkan kelompok tertentu.

Indonesia dibangun
agar semua anak bangsa
memiliki tempat yang sama
di bawah merah putih yang sama.


Kita mengaku demokratis.

Tetapi sering kali kebijaksanaan
dikalahkan oleh keramaian.

Yang paling banyak terdengar
belum tentu yang paling benar.
Yang paling viral
belum tentu yang paling bijaksana.

Dan republik ini sesungguhnya
tidak sedang kekurangan suara.

Ia lebih sering kekurangan kejernihan.


Kita mengaku menghendaki keadilan sosial.

Tetapi masih ada meja-meja makan
yang penuh berlimpah,
sementara di sudut lain negeri
ada yang menghitung hari
hingga beras terakhir habis dimasak.

Pertumbuhan berjalan.
Gedung-gedung menjulang.
Angka-angka membaik.

Namun Pancasila tidak pernah meminta
sekadar pertumbuhan.

Pancasila meminta
agar kemajuan memiliki hati.


Namun jangan salah.

Hari ini bukan hari untuk meratap.
Bukan pula hari untuk mencurigai masa depan.

Karena sesungguhnya
yang sedang diuji bukanlah Pancasila.
Yang sedang diuji adalah kita.

Pancasila tidak pernah korup.
Pancasila tidak pernah menyalahgunakan jabatan.
Pancasila tidak pernah memanipulasi hukum.
Pancasila tidak pernah mengkhianati rakyat.

Yang melakukan semua itu
adalah manusia
yang berdiri jauh dari nilai-nilainya.


Maka pada hari lahirnya ini,
marilah kita berhenti menjadikan Pancasila
sekadar hafalan.

Jadikan ia ukuran.

Ukuran keberhasilan pembangunan.
Ukuran kualitas demokrasi.
Ukuran kepemimpinan.
Ukuran kemajuan bangsa.

Karena bangsa yang besar
bukan bangsa yang paling sering menyebut Pancasila.

Melainkan bangsa yang paling sungguh-sungguh
menjelmakannya menjadi kenyataan.


Bayangkan Indonesia
ketika kekuasaan dipenuhi keteladanan.

Ketika hukum berdiri tegak
tanpa memilih wajah.

Ketika kemakmuran membuka pintu
bagi setiap anak bangsa.

Ketika perbedaan tidak lagi ditakuti,
melainkan dirayakan.

Ketika agama melahirkan akhlak,
ilmu melahirkan kebijaksanaan,
dan kekayaan melahirkan kepedulian.

Pada hari itulah
Pancasila tidak lagi hanya dibacakan.

Ia hidup.

Ia berjalan.

Ia bekerja.

Ia berbuah.


Dan kelak,
ketika anak cucu menoleh ke belakang,
mereka tidak akan mengenang kita
karena pidato yang indah.

Mereka akan mengenang kita
karena keberanian yang sederhana:

keberanian untuk menjadikan
lima sila itu
lebih kuat daripada kepentingan,
lebih tinggi daripada kekuasaan,
dan lebih nyata daripada slogan.

Sebab Pancasila yang sakti
bukanlah Pancasila yang dipuja.

Melainkan Pancasila
yang diwujudkan.

Dan tugas sejarah generasi kita adalah:

mengubah Pancasila dari cita-cita yang disepakati,
menjadi kenyataan yang dirasakan. 

Selamat Hari Lahir Pancasila.
Bangsa ini tidak kekurangan arah.
Bangsa ini hanya perlu lebih setia berjalan di jalan yang telah dipilihnya.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts