Sebelum Kata Menjadi Penjelasan
Sebelum Kata Menjadi Penjelasan
Aku tidak menulis puisi
untuk menjelaskan dunia.
Aku tidak sedang membangun teori
tentang makna, tafsir,
atau pertarungan sunyi
antara penulis dan pembaca.
Aku hanya berjalan
melewati lorong rasa
dan memungut kata-kata
yang jatuh dari dada.
Mereka datang sendiri.
Tanpa dipilih.
Tanpa disisir.
Tanpa diperiksa apakah cukup indah
untuk disebut sastra.
Kadang kalimatku kasar.
Terlalu telanjang.
Terlalu jujur.
Seperti tembok tua
yang catnya mengelupas
tetapi justru di situlah
waktu meninggalkan sidik jarinya.
Orang-orang menyebutnya tafsir.
Hermeneutika.
Makna di balik makna.
Prasangka atas bahasa.
Sejarah yang bersembunyi
di antara tanda baca.
Tetapi aku tidak pernah benar-benar tahu
apa arti kata-kataku.
Aku hanya merasakan
ada sesuatu yang hidup
ketika ia lahir.
Barangkali puisi memang bukan pengetahuan.
Ia bukan pidato yang selesai disusun akal.
Ia lebih mirip luka
yang akhirnya menemukan suara.
Dan suara itu
tidak selalu cerdas.
Tidak selalu runtut.
Tidak selalu akademis.
Tetapi ia berdenyut.
Sebab manusia sesungguhnya
tidak hidup oleh logika semata.
Kita terlalu lama dibesarkan
oleh angka, grafik, argumentasi,
dan kalimat-kalimat yang kehilangan nadi.
Dunia menjadi sangat pintar,
tetapi diam-diam kehilangan kemampuan
untuk gemetar.
Orang tahu definisi cinta
tetapi lupa bagaimana merindukan.
Orang mengerti teori kesedihan
tetapi tidak lagi mampu menangis.
Orang hafal istilah kemanusiaan
namun matanya tetap tenang
melihat sesamanya tenggelam.
Mungkin karena itu
aku menulis puisi
bukan untuk menjawab apa pun.
Aku hanya ingin
mengembalikan manusia
kepada perasaannya sendiri.
Kepada detak kecil
yang selama ini dikalahkan
oleh kebisingan intelegensia.
Karena ada hal-hal
yang tidak bisa diterangkan pikiran
tetapi langsung dimengerti jiwa.
Seperti senja yang membuat seseorang diam.
Seperti bau hujan
yang tiba-tiba menghidupkan masa kecil.
Seperti mata ibu
yang tidak pernah belajar filsafat
tetapi tahu cara memaafkan.
Dan mungkin puisi
lahir justru di wilayah itu:
di tempat bahasa berhenti menjelaskan
dan mulai merasa.
Di tempat kata
tidak lagi menjadi alat berpikir,
melainkan tubuh
bagi emosi yang ingin pulang.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment