Bangsa yang Menanam Matahari
Bangsa yang Menanam Matahari
— untuk mereka yang memilih membangun, ketika membeli terasa lebih mudah —
Mengapa kita harus berjalan jauh
jika jalan pintas terbentang di depan mata?
Mengapa harus meraba malam
jika lampu dari negeri lain dapat disewa?
Mengapa harus jatuh berkali-kali,
menghabiskan usia dalam laboratorium,
menghanguskan anggaran dalam percobaan,
menanggung ejekan atas kegagalan,
jika semuanya dapat dibeli dengan sekali tanda tangan?
Bukankah membeli lebih mudah?
Ya.
Membeli memang lebih mudah.
Tetapi sejarah tidak pernah bertanya
siapa yang paling mudah hidupnya.
Sejarah hanya mencatat
siapa yang akhirnya menentukan nasibnya sendiri.
⸻
Sebuah bangsa dapat membeli pesawat.
Tetapi tidak serta-merta membeli kemampuan merancang sayap.
Sebuah bangsa dapat membeli mesin.
Tetapi tidak serta-merta membeli keberanian
untuk menciptakan mesin berikutnya.
Sebuah bangsa dapat membeli teknologi.
Tetapi tidak pernah dapat membeli pengalaman
yang lahir dari tangan yang gemetar,
dari baut yang patah,
dari logam yang retak,
dari roket yang jatuh,
dari percobaan yang gagal.
Karena ada ilmu yang tidak tinggal di buku.
Ia tinggal di luka.
Ia tinggal di kesalahan.
Ia tinggal di ribuan kegagalan
yang diam-diam berubah menjadi kebijaksanaan.
⸻
Bangsa yang hanya membeli
sesungguhnya sedang menyewa masa depan.
Hari ini ia tampak maju.
Hari ini ia tampak modern.
Hari ini ia tampak berlari.
Namun kakinya masih dipinjamkan.
Dan siapa pun yang berjalan dengan kaki pinjaman
akan selalu takut ketika pemiliknya menarik kembali haknya.
Ketika dunia damai,
ketergantungan tampak seperti efisiensi.
Namun ketika dunia berubah,
ketika perang dagang meledak,
ketika rantai pasok terputus,
ketika teknologi menjadi senjata geopolitik,
barulah sebuah bangsa bertanya:
“Apakah uang masih cukup?”
Dan sering kali jawabannya adalah:
Tidak.
Karena ada saat ketika dunia tidak menjual.
Dan pada saat itulah kemampuan sendiri
menjadi benteng terakhir kemerdekaan.
⸻
Lihatlah bangsa-bangsa yang hari ini berdiri tinggi.
Mereka tidak lahir dari kenyamanan.
Mereka lahir dari ketekunan yang nyaris tidak masuk akal.
Puluhan tahun mereka membangun sekolah.
Puluhan tahun mereka membangun laboratorium.
Puluhan tahun mereka membangun industri.
Puluhan tahun mereka membangun manusia.
Mereka gagal.
Mereka bangkrut.
Mereka salah arah.
Mereka ditertawakan.
Tetapi mereka tidak berhenti.
Karena mereka memahami sesuatu
yang sering dilupakan banyak bangsa:
bahwa kemajuan bukanlah hasil kecerdasan sesaat,
melainkan disiplin yang dipelihara lintas generasi.
⸻
Maka jangan tanyakan:
“Bagaimana jika kita gagal?”
Tanyakanlah:
“Bagaimana jika kita tidak pernah mencoba?”
Karena kegagalan hanya menghabiskan waktu.
Tetapi ketergantungan dapat menghabiskan masa depan.
Kegagalan masih menyisakan pelajaran.
Ketergantungan hanya menyisakan tagihan.
Kegagalan masih melahirkan ilmuwan.
Ketergantungan melahirkan pembeli.
Dan sejarah dunia tidak pernah diubah oleh pembeli.
Ia diubah oleh pencipta.
⸻
Memang benar.
Membangun kemampuan memerlukan waktu.
Sepuluh tahun.
Dua puluh tahun.
Bahkan setengah abad.
Tidak ada jalan pintas menuju kedewasaan bangsa.
Pohon yang tumbuh dalam semalam
biasanya juga tumbang dalam semalam.
Tetapi pohon yang akarnya menembus zaman
akan bertahan menghadapi badai.
Karena itu tugas generasi hari ini
bukanlah memetik semua buah.
Melainkan menanam hutan.
⸻
Bayangkan Indonesia seratus tahun mendatang.
Bukan sekadar pasar terbesar.
Bukan sekadar pembeli terbesar.
Bukan sekadar pengguna teknologi dunia.
Tetapi pencipta.
Penemu.
Perancang.
Pusat ilmu.
Pusat inovasi.
Pusat peradaban baru.
Bayangkan anak-anak bangsa
tidak hanya mengoperasikan teknologi,
tetapi menciptakan teknologi.
Tidak hanya membaca masa depan,
tetapi menulis masa depan.
Tidak hanya mengikuti arus sejarah,
tetapi mengarahkan arus sejarah.
⸻
Karena sesungguhnya tujuan kemandirian
bukanlah kesombongan.
Bukan pula romantisme nasionalisme.
Tujuannya jauh lebih sederhana.
Agar bangsa ini bebas memilih jalannya sendiri.
Agar keputusan penting tidak bergantung pada belas kasihan orang lain.
Agar kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah
tidak berubah menjadi ketergantungan yang dibungkus kenyamanan.
⸻
Maka jika hari ini kita harus belajar,
belajarlah.
Jika harus meneliti,
telitilah.
Jika harus gagal,
gagallah dengan terhormat.
Jika harus jatuh,
jatuhlah sambil membawa catatan perbaikan.
Lalu bangkit lagi.
Dan bangkit lagi.
Dan bangkit lagi.
Sebab tidak ada bangsa besar
yang lahir dari keinginan untuk selalu berhasil.
Bangsa besar lahir dari keberanian
untuk terus mencoba.
⸻
Kelak,
ketika anak cucu memandang ke belakang,
mereka mungkin tidak mengingat nama kita.
Mereka mungkin tidak mengetahui
berapa banyak rapat yang kita hadiri,
berapa banyak dokumen yang kita tulis,
atau berapa banyak kritik yang kita terima.
Tetapi mereka akan hidup
di atas fondasi yang kita bangun hari ini.
Dan mereka akan berkata:
“Mereka adalah generasi yang menolak menjadi penyewa masa depan.”
“Mereka memilih jalan yang panjang.”
“Mereka memilih jalan yang sulit.”
“Mereka memilih menanam matahari.”
Dan karena itulah,
kami kini hidup dalam terang.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment