Jalan yang Tidak Bertanda
Jalan yang Tidak Bertanda
Ada masa ketika doa terasa seperti burung
yang terbang berputar-putar di langit yang sama,
tak jatuh menjadi hujan,
tak sampai menjadi pelangi.
Ada masa ketika tasbih tetap berputar,
kitab tetap terbuka,
sujud tetap panjang,
namun hati seperti berdiri di depan pintu yang tak kunjung terbuka.
Lalu kita bertanya:
“Mengapa aku belum sampai?”
Tetapi siapa yang berkata bahwa perjalanan ruhani
adalah soal sampai?
Barangkali sejak awal kita keliru.
Kita memperlakukan Tuhan seperti tujuan perjalanan,
padahal Dia adalah jalan itu sendiri.
Kita ingin melihat cahaya,
sementara Dia sedang mengajari kita mencintai malam.
Kita ingin menemukan jawaban,
sementara Dia sedang membersihkan ketergantungan kita pada jawaban.
Kita ingin merasakan kedekatan,
sementara Dia sedang mengikis kebutuhan kita untuk selalu merasa.
Betapa sering manusia mencari pengalaman spiritual,
namun lupa mencari kejujuran spiritual.
Kita ingin puncak gunung,
tetapi enggan tinggal lama di lembah yang sunyi.
Kita ingin karamah,
padahal yang lebih langka adalah kerendahan hati.
Kita ingin terbukanya tabir,
sementara tabir terbesar adalah diri kita sendiri.
Mungkin kemacetan yang kau rasakan
bukan tanda perjalanan gagal.
Mungkin justru itulah perjalanan.
Sebab benih tidak tumbuh dengan suara.
Akar tidak menembus tanah dengan gemuruh.
Di bawah permukaan yang tampak diam,
sedang berlangsung pekerjaan besar yang tak terlihat.
Bukankah laut terdalam selalu tenang?
Bukankah bintang-bintang lahir
dari kehancuran yang sangat sunyi?
Maka jangan terlalu sibuk mencari sesuatu yang tidak kau ketahui namanya.
Duduklah sejenak.
Dengarkan napas yang keluar-masuk tanpa meminta upah.
Perhatikan umur yang diam-diam berkurang.
Lihatlah daun yang gugur tanpa protes.
Lihatlah burung yang bernyanyi tanpa sertifikat kesucian.
Mereka tidak sedang mencari Tuhan.
Mereka sedang berada dalam Tuhan.
Dan mungkin itulah rahasia yang lama terlewat:
Bahwa yang mencari sering kali tersesat oleh bayangannya sendiri,
sedangkan yang hadir sepenuhnya
menemukan jejak-Nya di mana-mana.
Di cangkir teh yang mulai dingin.
Di keriput yang bertambah satu.
Di tawa cucu yang memecah sore.
Di tubuh yang melemah tetapi masih mampu bersyukur.
Di kegagalan yang meruntuhkan kesombongan.
Di kesunyian yang mengembalikan kita kepada diri yang paling telanjang.
Mungkin engkau tidak mandek.
Mungkin ego yang mandek.
Mungkin yang sedang ditunggu bukan kedatangan-Nya,
melainkan kepergianmu.
Kepergian segala yang selama ini menghalangi.
Dan ketika suatu hari kau berhenti bertanya,
“Kapan aku sampai?”
barangkali kau akan mendengar bisikan yang sangat halus:
“Siapa bilang engkau sedang berjalan menuju-Ku?”
“Sejak awal Aku yang berjalan menuju dirimu.”
Lalu seluruh pencarian menjadi hening.
Tak ada kemenangan.
Tak ada pengumuman.
Tak ada tanda tamat.
Hanya hati yang perlahan lunak,
seperti tanah yang akhirnya rela menerima hujan,
dan menyadari:
yang dicari selama ini
bukan berada di ujung jalan,
melainkan diam-diam hadir
dalam setiap langkah.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment