Ketika Burung Merpati Menjadi Wajah-Nya
Ketika Burung Merpati Menjadi Wajah-Nya
Di sebuah pagi yang hening di tepian Hastinapura,
embun masih bergantung pada ujung-ujung rumput.
Burung-burung bernyanyi lirih,
seakan takut mengganggu
pelajaran yang akan dimulai.
Resi Bisma berdiri tegak di bawah pohon besar. Rambutnya memutih seperti kabut yang turun dari puncak gunung.
Di hadapannya berbaris para Kurawa dan Pandawa, masing-masing menggenggam busur
dengan semangat yang menggelegak.
Di dahan tertinggi sebuah pohon,
seekor burung merpati dipasang sebagai sasaran.
“Anak-anakku,”
kata Bisma dengan suara tenang,
“hari ini aku ingin mengetahui bukan seberapa kuat tangan kalian,
tetapi seberapa jernih mata dan hati kalian.”
Satu per satu dipanggil.
Yudhistira maju.
“Apa yang kau lihat?”
“Hamba melihat pohon, dahan, langit, dan burung.”
“Turunlah.”
Bima maju.
“Apa yang kau lihat?”
“Hamba melihat burung itu, pohonnya, dan angin yang menggoyangkan ranting.”
“Turunlah.”
Begitulah, seratus orang dipanggil.
Duryadana, Dursasana, Nakula, Sadewa, dan yang lain menjawab sama.
Langit yang biru.
Pohon yang tinggi.
Daun yang bergerak.
Burung yang bertengger.
Lalu Arjuna dipanggil.
Pemuda itu melangkah perlahan.
Ia mengangkat busur.
Anak panah terpasang.
Waktu seakan berhenti.
Angin berhenti berbisik.
Daun berhenti bergoyang.
Resi Bisma menatapnya lama.
“Apa yang kau lihat, Arjuna?”
Arjuna tidak berkedip.
“Hamba melihat burung.”
“Apa lagi?”
“Tidak ada.”
“Bukankah kau melihat pohon?”
“Tidak.”
“Langit?”
“Tidak.”
“Dahannya?”
“Tidak.”
“Apa yang kau lihat sekarang?”
Arjuna menarik napas.
“Hamba hanya melihat burung itu.”
Mata Resi Bisma berbinar.
Bukan karena kegembiraan seorang guru yang menemukan murid terbaiknya,
melainkan karena ia melihat sesuatu yang jauh lebih langka:
kemampuannya untuk menyingkirkan segala yang tidak penting.
“Lepaskan.”
Anak panah melesat.
Suaranya hanya sekejap.
Dan tepat pada dada burung itu,
panah menancap.
—————
Bertahun-tahun aku merenungi kisah itu.
Mendengar pertanyaan yang sama setiap kali berdiri dalam shalat.
“Apa yang kau lihat?”
Aku menjawab:
Aku melihat dunia.
Aku melihat diriku.
Aku melihat kehormatanku.
Aku melihat ketakutanku.
Aku melihat cita-citaku.
Aku melihat surga yang kuharapkan.
Aku melihat neraka yang kutakuti.
Lalu suara itu menghilang.
—————
Tubuh menghadap kiblat,
tetapi hati menghadap ke mana-mana.
Maka tak heran
jika shalat terasa panjang,
namun hati tak pernah sampai.
—————
Maka, Jiwa yang mencari,
berdirilah pada shalat malammu.
Diamlah.
Biarkan dunia menjauh.
Biarkan namamu hilang.
Biarkan sejarahmu hilang.
Biarkan seluruh semesta tenggelam.
Lalu dengarkan pertanyaan yang datang dari kedalaman cahaya:
“Apa yang engkau lihat?”
Jika masih ada sesuatu yang dapat kau sebut,
maka perjalanan belum selesai.
Tetapi apabila lidahmu terdiam,
akalmu terdiam,
hatimu terdiam,
dan hanya air mata yang menjawab,
maka mungkin engkau telah mulai melihat
apa yang dilihat para pecinta sejak dahulu.
—————
Pada saat itu,
shalat tidak lagi menjadi ibadah.
Ia menjadi perjumpaan.
Dan pemanah,
panah,
serta sasaran,
melebur dalam satu rahasia:
“Tiada yang lain selain Dia.”
Dan ketika hati telah menemukan
satu-satunya sasaran itu,
doa menjadi lebih jernih,
air mata menjadi lebih bening,
dan shalat tidak lagi terasa sebagai kewajiban,
melainkan kerinduan untuk pulang.
Ke hadapan-Nya.
Ke sumber segala cinta.
Ke tempat di mana hati akhirnya mengerti:
bahwa yang dicari bukanlah dunia yang begitu banyak, melainkan Dia Yang Maha Satu.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment