Ketika Negara Belajar Berbaris, dan Bangsa Belajar Bermimpi

Ketika Negara Belajar Berbaris, dan Bangsa Belajar Bermimpi


Di negeri yang pernah lama diperintah oleh komando,
sejarah meninggalkan jejak yang tidak sepenuhnya hilang.

Ia tertinggal di arsip-arsip tua,
di ruang-ruang rapat yang sunyi,
di ingatan mereka yang pernah hidup
ketika seragam menjadi bahasa kekuasaan
dan kepatuhan dianggap sebagai bentuk tertinggi pengabdian.

Waktu kemudian bergulir.
Rezim berganti.

Bendera yang sama tetap berkibar.
Konstitusi tetap dijunjung.
Demokrasi tumbuh dengan segala kekurangan dan keramaiannya.

Namun sejarah memiliki kebiasaan yang aneh.
Ia sering kembali,
bukan dengan wajah yang sama,
melainkan dengan pakaian yang berbeda.


Kini negeri ini kembali berbicara tentang disiplin.

Tentang ketahanan pangan.
Tentang ketahanan energi.
Tentang hilirisasi.
Tentang swasembada.
Tentang target-target besar yang harus dicapai.
Tentang percepatan yang harus diwujudkan.

Dan di tengah semua itu,
langkah-langkah komando terdengar semakin dekat.

Bukan lagi dalam bentuk tank yang memasuki kota.
Bukan lagi dalam bentuk laras senapan yang mengawasi kantor-kantor pemerintahan.

Melainkan dalam cara berpikir.
Dalam cara mengelola negara.
Dalam keyakinan bahwa segala sesuatu akan lebih cepat selesai
jika semua orang berdiri dalam satu barisan.


Memang ada saat ketika bangsa membutuhkan barisan.

Ketika bencana datang.
Ketika krisis melanda.
Ketika negara harus bergerak cepat
dan keraguan hanya akan memperpanjang penderitaan.

Dalam keadaan seperti itu,
komando adalah jembatan yang mempercepat langkah.
Disiplin adalah tenaga yang menggerakkan roda.
Dan ketegasan adalah obat bagi kekacauan.

Tidak ada bangsa besar yang dibangun oleh kemalasan.
Tidak ada kemajuan yang lahir dari ketidakpastian tanpa akhir.


Namun sejarah juga mengajarkan sesuatu yang lain.

Pohon yang tumbuh lurus memang kuat.
Tetapi hutan tidak pernah terdiri dari satu pohon.

Peradaban tidak dibangun oleh satu suara.
Ilmu tidak lahir dari kepatuhan semata.
Penemuan tidak muncul dari ketakutan untuk berbeda.

Kemajuan tidak lahir dari manusia yang hanya pandai menjawab:

“Siap laksanakan.”

Kemajuan lahir dari mereka yang berani bertanya:

“Mengapa?”
“Apakah ada cara yang lebih baik?”
“Apa yang belum kita lihat?”


Karena negara dan tentara sesungguhnya dibangun untuk tujuan yang berbeda.

Tentara dibangun untuk menghadapi ancaman.
Negara dibangun untuk melayani kehidupan.

Tentara membutuhkan kepastian.
Masyarakat membutuhkan ruang.

Tentara bergerak melalui komando.
Peradaban bergerak melalui gagasan.

Dan ketika keduanya bertemu,
kebijaksanaan diperlukan agar yang satu tidak menelan yang lain.


Indonesia Emas tidak akan lahir hanya dari bendungan.
Tidak akan lahir hanya dari tambang.
Tidak akan lahir hanya dari kawasan industri yang menjulang.
Tidak akan lahir hanya dari statistik pertumbuhan yang dipajang di layar presentasi.

Indonesia Emas akan lahir dari manusia.

Dari anak-anak yang berani bertanya kepada gurunya.
Dari ilmuwan yang berani menggugat teori lama.

Dari birokrat yang berani berkata benar kepada atasannya.
Dari pemimpin yang cukup percaya diri untuk mendengar kritik.

Dan dari negara yang tidak takut kepada pikiran-pikiran baru.


Sebab abad yang sedang datang bukanlah abad baja.
Bukan pula abad minyak.
Bukan abad batu bara.

Melainkan abad pengetahuan.

Abad kecerdasan buatan.
Abad data.
Abad inovasi.

Dalam dunia seperti itu,
yang paling berharga bukanlah sumber daya alam.
Melainkan kemampuan manusia untuk berpikir.
Dan pikiran tidak tumbuh subur dalam ketakutan.

Ia tumbuh dalam kebebasan yang bertanggung jawab.


Maka Indonesia sedang berdiri di sebuah persimpangan sejarah.

Di satu sisi terdapat jalan disiplin, stabilitas, dan kecepatan.
Di sisi lain terdapat jalan kreativitas, keterbukaan, dan inovasi.

Keduanya penting.
Keduanya diperlukan.
Keduanya tidak boleh saling meniadakan.

Karena bangsa yang hanya mengenal kebebasan
akan berjalan tanpa arah.
Tetapi bangsa yang hanya mengenal komando
akan kehilangan masa depan.


Barangkali tantangan terbesar Indonesia bukan memilih salah satunya.
Melainkan menemukan titik keseimbangan yang jarang ditemukan bangsa-bangsa lain.

Negara yang cukup kuat untuk bertindak.
Tetapi cukup rendah hati untuk mendengar.

Negara yang cukup disiplin untuk mengeksekusi.
Tetapi cukup bijaksana untuk dikoreksi.

Negara yang mampu menggerakkan jutaan orang menuju tujuan bersama,
tanpa mematikan keberanian mereka untuk berpikir.


Karena pada akhirnya,
yang akan menentukan nasib Indonesia bukanlah berapa banyak perintah yang dikeluarkan.
Bukan pula berapa banyak program yang diumumkan.
Melainkan manusia seperti apa yang lahir dari sistem itu.

Apakah ia melahirkan generasi yang hanya menunggu instruksi?
Ataukah generasi yang mampu menciptakan arah?

Apakah ia melahirkan warga yang patuh karena takut?
Ataukah warga yang bertanggung jawab karena sadar?

Apakah ia melahirkan birokrat yang sekadar menjalankan tugas?
Ataukah pelayan publik yang memahami denyut harapan rakyatnya?


Dan ketika suatu hari anak cucu kita memandang ke belakang,
mereka mungkin tidak akan mengingat nama program-program besar yang pernah memenuhi berita.

Mereka mungkin tidak akan mengingat slogan-slogan yang pernah menggema di layar dan podium.
Tetapi mereka akan merasakan akibatnya.

Mereka akan hidup dalam hasil pilihan yang kita buat hari ini.

Apakah kita membangun negara yang sekadar kuat,
atau negara yang kuat sekaligus bijaksana.

Apakah kita membangun bangsa yang sekadar mampu berbaris,
atau bangsa yang mampu bermimpi.

Sebab sejarah telah berkali-kali membuktikan:

Tentara yang hebat dapat menjaga sebuah negeri.
Tetapi hanya pikiran yang merdeka yang dapat membangun peradaban.

Dan masa depan Indonesia, pada akhirnya, akan ditentukan oleh kemampuan kita menjaga keduanya tetap hidup—kedisiplinan untuk bekerja, dan kebebasan untuk berpikir. 

Di sanalah Indonesia yang besar, adil, maju, dan bermartabat mungkin akan lahir.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts