Ketika Rupiah Bertanya kepada Bangsanya

 Ketika Rupiah Bertanya kepada Bangsanya


Di layar-layar berita, angka-angka bergerak seperti bayang-bayang senja.

Nilai tukar melemah. 
Pasar gelisah. 
Kepercayaan berjalan pelan di atas jembatan yang diguncang angin.

Di negeri-negeri tetangga, mata uang mereka menemukan pijakannya kembali. 

Sebagian menguat oleh industri yang matang.
Sebagian oleh produktivitas yang terus tumbuh.
Sebagian oleh disiplin panjang yang dibangun bertahun-tahun.

Lalu rupiah menoleh kepada bangsanya dan bertanya lirih,

“Apakah aku sedang sakit, atau hanya sedang mengingatkan?”


Maka terdengarlah banyak suara.

Ada yang menyalahkan keadaan dunia. 
Ada yang menunjuk perang dan ketidakpastian global. 
Ada yang menunjuk suku bunga internasional. 
Ada yang menunjuk pasar.

Semua mungkin benar.

Namun sebuah bangsa tidak menjadi kuat dengan mencari siapa yang harus disalahkan.

Bangsa yang besar bertanya lebih dalam:

“Apa yang belum kita bangun?”


Sebab mata uang pada akhirnya bukan sekadar kertas yang diperdagangkan.

Ia adalah cermin.

Ketika produktivitas lemah, ia memantulkan kelemahan.
Ketika industri rapuh, ia memantulkan kerapuhan.
Ketika terlalu banyak membeli dan terlalu sedikit mencipta, ia memantulkan ketergantungan.

Rupiah tidak sedang berbicara tentang kurs.
Ia sedang berbicara tentang fondasi.


Apakah pemerintah mampu mengatasinya?

Mungkin.

Tetapi tidak dengan pidato.
Tidak dengan optimisme yang dipinjam dari kata-kata.
Tidak dengan statistik yang dipoles agar terlihat lebih indah dari kenyataan.

Krisis ekonomi tidak pernah tunduk kepada retorika.
Ia hanya tunduk kepada kerja nyata.

Kepada keberanian mengambil keputusan yang benar meski tidak populer.
Kepada kemampuan membedakan antara pencitraan dan pembangunan.
Kepada kesediaan menanam pohon yang hasilnya baru dipetik generasi berikutnya.


Bangsa ini tidak kekurangan program.
Yang sering kurang adalah kesinambungan.

Setiap pemerintahan datang membawa slogan baru, 
membawa nama baru, 
membawa kemasan baru.

Namun pembangunan yang besar tidak lahir dari pergantian slogan.

Ia lahir dari konsistensi.
Dari disiplin yang dijaga puluhan tahun.
Dari arah yang tidak berubah meski pemimpinnya berganti.


Kita terlalu lama mengukur keberhasilan dari seberapa banyak yang dibangun.

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:

Berapa banyak yang mampu kita ciptakan sendiri?
Berapa mesin yang kita rancang?
Berapa teknologi yang kita kuasai?
Berapa paten yang kita lahirkan?
Berapa industri yang berdiri di atas ilmu bangsa sendiri?

Karena negara yang kuat bukan negara yang paling banyak membeli.
Melainkan negara yang paling banyak menghasilkan.


Mungkin inilah saatnya membangun sistem baru.

Sistem yang tidak bergantung kepada satu tokoh.
Tidak bergantung kepada satu menteri.
Tidak bergantung kepada satu presiden.

Sistem yang tetap berjalan bahkan ketika semua nama telah berganti.

Institusi yang kuat.
Birokrasi yang profesional.
Bank sentral yang independen.
Pengawasan yang berintegritas.

Pendidikan yang melahirkan pencipta, bukan sekadar pencari kerja.
Riset yang menjadi budaya, bukan pelengkap anggaran.
Industri yang tumbuh dari laboratorium, bukan dari ketergantungan impor.


Sebab krisis yang berulang hampir selalu memiliki akar yang sama.

Kita terlalu sibuk memadamkan api, tetapi lupa membangun rumah yang tahan kebakaran.

Kita terlalu fokus menyembuhkan gejala, tetapi enggan memperbaiki penyebab.

Padahal bangsa yang bijak belajar dari luka-lukanya.


Aku tidak takut pada melemahnya rupiah.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika bangsa ini kehilangan keberanian untuk bercermin.

Karena mata uang dapat pulih.
Pasar dapat pulih.
Ekonomi dapat pulih.

Tetapi bangsa yang berhenti belajar dari kesalahannya akan mengulang krisis yang sama dengan nama yang berbeda.


Maka di tengah kegelisahan ini, jangan hanya bertanya:

“Kapan rupiah menguat?”

Tanyakan juga:

“Kapan produktivitas kita menguat?”
“Kapan riset menjadi kebanggaan nasional?”
“Kapan industri berdiri di atas kemampuan sendiri?”
“Kapan kebijakan melampaui satu periode kekuasaan?”

Sebab ketika pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, rupiah tidak perlu diperintahkan untuk kuat.

Ia akan menguat karena ditopang oleh sesuatu yang lebih kokoh daripada cadangan devisa.

Yaitu peradaban ekonomi yang dibangun dengan kesabaran, ilmu pengetahuan, disiplin, dan keberanian.

Dan pada hari itu, krisis tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan.
Melainkan guru tua yang pernah datang mengingatkan bangsa ini.

Bahwa kemakmuran sejati tidak diwariskan oleh alam.
Melainkan diciptakan oleh bangsa yang berani membangun masa depannya sendiri.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts