Ketika Semua Orang Memuji Jubah yang Tak Ada
Ketika Semua Orang Memuji Jubah yang Tak Ada
Di alun-alun negeri yang ramai,
genderang ditabuh lebih keras daripada nurani,
spanduk-spanduk dikibarkan lebih tinggi daripada akal sehat,
dan kata-kata dipoles hingga berkilau
seperti emas yang tak pernah diuji api.
Seorang raja berjalan.
Atau begitulah orang-orang menyebutnya.
Di sekelilingnya berdiri para pemuji,
para penafsir mimpi,
para pedagang harapan,
para penyusun angka yang tahu
bagaimana membuat kenyataan tampak lebih indah
daripada kenyataan itu sendiri.
“Lihatlah jubahnya!”
seru mereka.
“Betapa megah.
Betapa agung.
Betapa bersejarah.”
Dan orang banyak mengangguk.
Bukan karena mereka melihat,
melainkan karena mereka takut.
Takut dianggap tidak mengerti.
Takut dianggap tidak loyal.
Takut kehilangan kursi.
Takut kehilangan akses.
Takut kehilangan bagian dari pesta.
Maka kebohongan kecil
berubah menjadi kesepakatan besar.
Dan kesepakatan besar
berubah menjadi kebenaran resmi.
⸻
Lalu para ahli mulai diam.
Data disimpan dalam laci.
Peringatan ditulis dengan bahasa yang lunak.
Kritik dibungkus pujian.
Laporan dibersihkan dari duri-duri kenyataan.
Karena di negeri itu,
yang dicari bukan kebenaran,
melainkan kenyamanan.
Bukan fakta,
melainkan afirmasi.
Bukan cermin,
melainkan panggung.
Dan panggung selalu membutuhkan tepuk tangan.
⸻
Namun sejarah memiliki kebiasaan aneh.
Ia tidak tunduk pada pidato.
Ia tidak peduli pada baliho.
Ia tidak membaca slogan.
Ia hanya bertanya:
“Apa yang sungguh terjadi?”
Sawah yang gagal panen tetap gagal panen.
Utang yang menumpuk tetap menumpuk.
Luka yang ditutup pidato tetap bernanah.
Dan mimpi yang tidak berpijak pada tanah
akan jatuh oleh beratnya sendiri.
Karena kenyataan adalah hakim
yang tidak bisa disuap.
⸻
Di tengah keramaian itu,
entah dari mana,
selalu lahir seorang anak kecil.
Bukan karena ia paling pintar.
Bukan karena ia paling berani.
Melainkan karena ia belum belajar
cara berbohong kepada dirinya sendiri.
Ia melihat.
Lalu berkata:
“Bukankah rajanya telanjang?”
Kalimat sederhana itu
lebih tajam daripada seribu editorial,
lebih kuat daripada seratus seminar,
lebih menakutkan daripada sejuta pujian.
Karena kebohongan terbesar bukanlah saat satu orang berdusta.
Kebohongan terbesar adalah saat semua orang tahu,
namun semua orang berpura-pura tidak tahu.
⸻
Maka yang patut kita takuti bukanlah raja yang telanjang.
Ia hanya seorang manusia.
Yang patut kita takuti adalah saat seluruh negeri
kehilangan anak kecil itu.
Saat universitas memilih diam.
Saat birokrasi memilih aman.
Saat media memilih nyaman.
Saat intelektual memilih undangan makan malam
daripada kegelisahan nurani.
Saat kebenaran menjadi tamu asing
di rumahnya sendiri.
⸻
Sebab sebuah bangsa tidak runtuh
ketika pemimpinnya keliru.
Bangsa runtuh
ketika tak seorang pun lagi berani berkata
bahwa pemimpinnya keliru.
Dan pada hari itu,
jubah yang tak pernah ada
akan tetap dipuji,
hingga kenyataan datang
seperti fajar yang tak bisa ditunda.
Membuka mata semua orang,
dan memperlihatkan bahwa sejak awal
yang hilang bukanlah pakaian sang raja,
melainkan keberanian rakyatnya
untuk melihat apa adanya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment