Ketika Yang Tersisa Hanya Mimpi

Ketika Yang Tersisa Hanya Mimpi


Ketika tak ada yang tinggal di meja,
selain piring yang mengingat nasi,
dan lampu yang menyala redup
karena tagihan yang menunggu pagi,

orang-orang kecil belajar satu hal:
jika tak memiliki apa-apa,
mereka akan bermimpi tentang segalanya.

Mereka membangun kota di dalam kepala,
ketika jalan di depan rumah masih berlubang.
Mereka menyekolahkan anak-anak dalam doa,
ketika biaya pendidikan lebih tinggi dari upah.
Mereka menanam masa depan dalam dada,
meski tanah yang mereka pijak
belum selesai dijanjikan.

Di atas mimbar,
kata-kata tumbuh lebih cepat daripada panen.
Angka-angka berbaris rapi dalam laporan.
Grafik menanjak.
Pidato mengembang.

Namun di bawah langit yang sama,
ada tangan-tangan yang tetap kasar,
ada punggung-punggung yang tetap membungkuk,
ada langkah-langkah panjang
yang ditempuh demi pekerjaan yang tak pasti.

Dan rakyat pun bertanya dalam diam:

Apakah pembangunan adalah gedung yang menjulang,
jika dapur masih kesulitan mengepul?

Apakah kemajuan adalah angka yang dipuji,
jika wajah-wajah lelah tak pernah dihitung?

Apakah masa depan sungguh sedang dibangun,
atau hanya terus digambarkan?

Tetapi dengarlah.

Mimpi bukan kesalahan orang miskin.

Mimpi adalah cara terakhir manusia
menolak menyerah.

Selama seorang ibu masih menyisihkan harapan
di sela kekhawatiran,
selama seorang ayah masih berangkat sebelum fajar
meski upah tak selalu sepadan,
selama anak-anak masih berani bercita-cita
lebih tinggi daripada keadaan,

masa depan belum kalah.

Namun harapan tidak boleh dijadikan kebijakan.
Mimpi tidak boleh dijadikan pengganti pekerjaan.

Tugas pemerintah bukan meminta rakyat
bermimpi lebih tinggi.

Tugas pemerintah adalah membuat rakyat
tidak perlu bermimpi terlalu jauh
untuk memperoleh kehidupan yang layak.

Bukan menjual esok,
melainkan menghadirkan hari ini.

Membangun sekolah
sebelum membangun slogan.

Menciptakan pekerjaan
sebelum menciptakan pencitraan.

Memperbaiki sawah, pasar, jalan, dan layanan publik
sebelum mempercantik pidato.

Karena negara yang baik
bukan negara yang pandai menjelaskan harapan,

melainkan negara yang mampu
mengubah harapan menjadi kenyataan.

Dan ketika itu terjadi,

orang-orang kecil tidak lagi bermimpi
tentang segalanya,

sebab sebagian mimpi mereka
telah tumbuh menjadi kenyataan.

Seperti fajar yang perlahan datang,
tanpa banyak janji,
tanpa banyak suara,

namun cukup terang
untuk membuat setiap orang percaya:

bahwa hidup yang lebih baik
bukan hadiah bagi segelintir orang,

melainkan hak
bagi semua.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts