Pawitra Tirta

Pawitra Tirta


Drona menunjuk ke arah laut selatan.

Tak ada penjelasan.

Tak ada bekal selain sebuah nama
yang belum pernah didengar Bima sebelumnya.

“Carilah Pawitra Tirta.”

Maka ia berangkat.

Meninggalkan jejak-jejak daratan,
menembus hutan yang lembap,
mendaki sunyi pegunungan,
hingga tiba di tepi samudra
yang seperti tak pernah selesai
memandang dirinya sendiri.

Laut terbentang tanpa jawaban.

Angin membawa aroma garam
dan sesuatu yang terasa asing,
seolah ada rahasia tua
yang telah lama tenggelam di sana.

Bima menyelam.

Semakin dalam.
Semakin jauh dari cahaya.
Semakin dekat kepada gelap.

Namun yang dijumpainya
bukan air kehidupan.

Hanya seekor naga.

Besar.
Diam.
Menunggu.

Seperti sesuatu yang sejak lama
memang harus dihadapinya.

Pertarungan pun pecah.

Ombak berhamburan.
Arus menggeliat.

Dan ketika naga itu akhirnya rebah
di dasar samudra,
tak ada sorak kemenangan.
Tak ada cahaya yang turun dari langit.

Tak ada Pawitra Tirta.

Yang ada hanya kesunyian.
Dan seorang ksatria
yang mendadak merasa asing
terhadap seluruh kekuatannya.

Untuk apa kemenangan,
jika yang dicari tetap tak ditemukan?

Untuk apa perjalanan yang begitu jauh,
jika hati tetap berada di tempat yang sama?

Di tengah kehampaan itu,
muncullah Dewaruci.

Kecil tubuhnya.

Namun di hadapannya,
lautan yang luas seakan kehilangan kebesarannya.

“Apa yang kau cari, Bima?”

“Pawitra Tirta.”

“Dan apa yang kau temukan?”

Bima menunduk.

Lama.

Seperti sedang melihat seluruh hidupnya sendiri.

“Aku hanya menemukan naga,
lalu kehilangan arah.”

Dewaruci tersenyum.

Sehalus riak yang menyentuh pantai.

“Tidak anakku.
Engkau menemukan dirimu.

Lalu laut menjadi begitu sunyi.

Sampai Bima dapat mendengar
sesuatu yang selama ini tertutup
oleh gemuruh keberaniannya sendiri.

“Naga itu bukan penghuni samudra.
Ia hidup di dalam dirimu.”

Keinginan untuk menang.
Keinginan untuk menjadi besar.
Keinginan untuk menggenggam dunia
dengan tangan yang fana.

Dan saat naga itu tumbang,
untuk pertama kalinya
matamu mulai bening.

“Karena Pawitra Tirta bukan sesuatu yang dicari.”

“Ia adalah sesuatu yang tampak
ketika pencarinya lenyap.”

Maka pecahlah tangis Bima.

Seperti hujan yang akhirnya jatuh
setelah lama menjadi awan.

Ia datang ke laut selatan
untuk mencari setetes air suci.
Namun yang ditemukannya
adalah samudra yang tak berbatas
di dalam dirinya sendiri.

Dan pada saat itu ia mengerti:

selama ini ia mengetuk
pintu demi pintu dunia,
padahal yang terbuka
adalah pintu hatinya sendiri.

Ia mengarungi lautan
untuk mencari Yang Mahajauh,
lalu tersadar bahwa
tak pernah ada jarak
antara dirinya dan Yang Dicari.

Yang jauh hanyalah keakuannya.
Yang jauh hanyalah kesibukannya.
Yang jauh hanyalah bayang-bayang dirinya
yang berdiri di antara hati
dan Cahaya.

Ketika bayang itu lenyap,
segala sesuatu menjadi terang.

Laut bukan lagi laut.
Angin bukan lagi angin.
Dirinya bukan lagi dirinya.

Semua mengalir menuju Satu.
Semua kembali kepada Satu.

Dan di kedalaman yang bening itu,
Bima melihat bahwa hidup
bukanlah perjalanan untuk menemukan Tuhan.

Sebab Tuhan tidak pernah hilang.

Hidup adalah perjalanan
untuk kehilangan diri sendiri,
hingga tak ada lagi yang tersisa
selain Dia.

Seperti setetes air
yang jatuh ke dalam samudra—
tak musnah,
namun menjadi keluasan itu sendiri.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts