Tiga Sungai dari Satu Mata Air, dan Pertanyaan tentang Indonesia yang Belum Selesai
Tiga Sungai dari Satu Mata Air, dan Pertanyaan tentang Indonesia yang Belum Selesai
Di sebuah rumah sederhana di Surabaya,
seorang guru menyalakan pelita.
Namanya Haji Oemar Said Tjokroaminoto.
Bukan raja.
Bukan panglima perang.
Bukan pula pemilik istana yang menjulang.
Ia hanya seorang manusia
yang percaya bahwa bangsa yang terjajah
harus terlebih dahulu membebaskan pikirannya.
Ia mengerti bahwa rantai terkuat
bukan yang mengikat tangan,
melainkan yang mengikat cara manusia berpikir.
Maka di ruang-ruang sederhana itu,
di antara buku-buku yang lusuh,
di antara perdebatan yang panjang hingga larut malam,
ia menanam benih.
Bukan benih padi.
Bukan benih pohon.
Melainkan benih gagasan.
Dan sejarah kemudian mencatat:
benih itu tumbuh menjadi hutan.
⸻
Di rumah Tjokroaminoto,
anak-anak muda datang membawa pertanyaan.
Tentang Tuhan.
Tentang keadilan.
Tentang bangsa.
Tentang penjajahan.
Tentang masa depan yang belum memiliki nama.
Mereka duduk di lantai yang sama.
Mereka mendengar guru yang sama.
Mereka menghirup udara yang sama.
Tetapi ketika dewasa,
mereka memilih jalan yang berbeda.
⸻
Yang pertama memandang Nusantara.
Namanya Soekarno.
Ia melihat ribuan pulau,
ratusan bahasa,
beragam agama,
berjuta wajah.
Lalu ia berkata:
“Rumah ini terlalu luas untuk dimiliki satu golongan.”
Maka ia membangun jembatan.
Ia menamainya bangsa.
Ia menamainya Indonesia.
⸻
Yang kedua memandang rakyat jelata.
Namanya Musso.
Ia melihat petani yang lapar.
Buruh yang diperas.
Rakyat yang hidup di bawah bayang-bayang ketidakadilan.
Lalu ia berkata:
“Kemerdekaan tanpa keadilan sosial hanyalah perubahan warna bendera.”
Maka ia mencari jalan revolusi.
Meski kemudian jalan itu berbenturan keras dengan sejarah bangsanya sendiri.
⸻
Yang ketiga memandang langit.
Namanya Kartosuwiryo.
Ia melihat agama bukan sekadar ibadah,
melainkan tata kehidupan yang menyeluruh.
Lalu ia bertanya:
“Mengapa manusia mencari hukum lain jika Tuhan telah memberi petunjuk?”
Maka ia berjalan menuju cita-cita yang diyakininya.
Meski akhirnya berhadapan dengan republik yang baru lahir.
⸻
Tiga murid.
Tiga keyakinan.
Tiga arah.
Tetapi satu guru.
Satu kegelisahan.
Satu mata air.
Dan mungkin di situlah kebesaran Tjokroaminoto.
Ia tidak menciptakan pengikut.
Ia melahirkan pemikir.
⸻
Namun sejarah belum selesai.
Karena pertanyaan yang dahulu menggelisahkan mereka
masih menggelisahkan kita hari ini.
Bagaimana membangun bangsa yang adil?
Bagaimana menyatukan keberagaman?
Bagaimana menghubungkan iman dengan kemajuan?
Bagaimana memastikan kemerdekaan tidak berhenti sebagai upacara?
⸻
Indonesia telah merdeka.
Tetapi kemerdekaan ternyata hanyalah gerbang pertama.
Setelah bendera dikibarkan,
muncul pertanyaan yang lebih berat.
Bagaimana memberi makan rakyat?
Bagaimana mencerdaskan bangsa?
Bagaimana membangun teknologi sendiri?
Bagaimana menciptakan ilmu sendiri?
Bagaimana memastikan keadilan tidak berhenti sebagai slogan?
⸻
Kini abad telah berubah.
Musuh tidak selalu datang dengan meriam.
Tidak selalu datang dengan seragam.
Tidak selalu datang dengan kapal perang.
Ia datang melalui data.
Melalui algoritma.
Melalui kecerdasan buatan.
Melalui paten teknologi.
Melalui dominasi ilmu pengetahuan.
Kolonialisme baru tidak selalu merampas tanah.
Kadang ia cukup membuat bangsa lain selamanya menjadi pengguna.
⸻
Maka Indonesia masa depan tidak boleh berhenti
pada perdebatan lama.
Ia harus melampauinya.
Nasionalisme harus bertemu ilmu.
Spiritualitas harus bertemu inovasi.
Keadilan harus bertemu produktivitas.
Demokrasi harus bertemu disiplin.
Kebebasan harus bertemu tanggung jawab.
⸻
Karena burung tidak dapat terbang
dengan satu sayap.
Bangsa yang hanya kuat dalam retorika
akan tertinggal.
Bangsa yang hanya kuat dalam ekonomi
akan kehilangan jiwa.
Bangsa yang hanya kuat dalam agama
tanpa ilmu akan kesulitan memimpin zaman.
Bangsa yang hanya kuat dalam teknologi
tanpa moral akan kehilangan arah.
⸻
Barangkali,
jika HOS Tjokroaminoto dapat kembali sejenak
dan berdiri di tengah Indonesia abad ke-21,
ia tidak akan bertanya:
“Apakah Soekarno benar?”
Ia tidak akan bertanya:
“Apakah Musso benar?”
Ia tidak akan bertanya:
“Apakah Kartosuwiryo benar?”
Ia mungkin akan bertanya sesuatu yang jauh lebih penting:
“Apakah Indonesia masih melahirkan manusia yang berani berpikir?”
“Apakah Indonesia masih melahirkan manusia yang berani belajar?”
“Apakah Indonesia masih melahirkan manusia yang berani berkorban demi masa depan yang tidak akan sempat mereka nikmati?”
⸻
Sebab ukuran sebuah bangsa
bukanlah seberapa keras ia memuji masa lalunya.
Melainkan seberapa serius ia membangun masa depannya.
Dan ukuran seorang guru
bukanlah berapa banyak murid yang menirunya.
Melainkan berapa banyak generasi
yang terus menyalakan api yang pernah ia nyalakan.
⸻
Maka di ujung puisi ini,
nama HOS Tjokroaminoto berdiri
bukan sebagai monumen batu.
Melainkan sebagai pertanyaan yang terus hidup.
Apakah Indonesia akan menjadi bangsa yang hanya mengingat para pendirinya?
Ataukah menjadi bangsa yang meneruskan keberanian mereka
untuk berpikir besar,
berjuang panjang,
belajar tanpa lelah,
dan membangun peradaban yang melampaui zamannya?
Karena masa depan tidak pernah diwariskan.
Masa depan harus diciptakan.
Dan seperti yang diajarkan sang guru dari Surabaya itu,
peradaban besar tidak lahir dari kenyamanan.
Ia lahir dari pikiran yang merdeka,
kerja yang disiplin,
dan keberanian untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment