Titik Biru yang Lupa Namanya
Titik Biru yang Lupa Namanya
Di musim ketika stadion-stadion bernapas serempak,
jutaan dada berdebar dalam irama yang sama.
Sebuah bola menggelinding,
dan untuk sesaat bendera-bendera menjadi lebih ringan dari biasanya.
Orang-orang yang tak saling mengenal
berteriak pada langit yang sama,
tertawa dalam bahasa yang berbeda,
namun dipersatukan oleh arah pandang yang serupa.
Betapa aneh.
Kita membutuhkan benda bulat dari kulit dan udara
untuk mengingat bahwa kita memiliki jantung.
⸻
Namun pertandingan berakhir.
Lampu stadion padam.
Lagu kebangsaan kembali masuk ke lemarinya.
Sorak-sorai berubah menjadi statistik.
Dan dunia kembali sibuk menghafal perbedaannya.
Di ruang-ruang yang lebih sunyi,
orang-orang terdidik merancang senjata yang lebih cerdas daripada kebijaksanaan mereka.
Bangsa-bangsa mengukur harga minyak,
lalu menyebutnya harga diri.
Perbatasan digambar dengan penggaris,
kemudian dipertahankan dengan darah.
Kita telah mencapai bulan,
tetapi sering gagal mencapai sesama manusia.
Kita mampu mengirim pesan melintasi galaksi,
namun tidak selalu mampu menyampaikan belas kasih
ke seberang meja.
⸻
Barangkali akar perang bukanlah kebencian.
Barangkali ia lebih tua.
Lebih dalam.
Lebih mendasar.
Mungkin perang lahir ketika manusia lupa skala dirinya.
Ketika sebuah suku mengira dirinya dunia.
Ketika sebuah bangsa mengira dirinya sejarah.
Ketika sebuah generasi mengira dirinya pusat semesta.
Lalu segala yang berbeda dianggap ancaman.
Padahal dari kejauhan yang cukup jauh,
tak ada garis batas yang terlihat.
Tak ada negara.
Tak ada kerajaan.
Tak ada blok timur atau barat.
Hanya satu bola biru kecil
yang terapung dalam samudra gelap tanpa tepi.
Sebuah debu bercahaya
yang memuat seluruh cinta ibu kepada anaknya,
seluruh doa yang pernah dipanjatkan,
seluruh puisi yang pernah ditulis,
seluruh perang yang pernah disesali.
Dan seluruh itu
bahkan tidak cukup besar untuk menggores langit.
⸻
Betapa lucunya kita.
Penghuni satu rumah
yang berebut dinding.
Penumpang satu kapal
yang saling melubangi lantainya.
Pewarisi satu matahari
yang sibuk menentukan siapa yang paling berhak atas cahaya.
Kita bertengkar tentang kepemilikan,
padahal tak seorang pun memiliki pagi.
Kita berperang demi tanah,
padahal tubuh kita sendiri akan kembali menjadi tanah.
⸻
Mungkin yang akan menyelamatkan manusia
bukan teknologi yang lebih canggih.
Bukan ekonomi yang lebih besar.
Bukan senjata yang lebih menakutkan.
Melainkan kesadaran yang sederhana dan terlambat:
bahwa nasib kita saling terikat.
Bahwa udara yang kuhirup hari ini
pernah melintasi paru-paru orang yang tidak kukenal.
Bahwa lautan tidak memeriksa paspor sungai.
Bahwa awan tidak mengenal ideologi.
Bahwa kelaparan, wabah, iklim, dan kematian
tidak pernah belajar membaca peta politik.
⸻
Dan mungkin karena itulah sebuah bola dapat mempersatukan dunia.
Bukan karena olahraga itu sendiri.
Melainkan karena ia mengingatkan sesuatu yang lebih purba:
bahwa manusia sesungguhnya rindu menjadi satu.
Rindu menemukan kembali keluarga yang hilang
di balik nama negara, agama, ras, dan sejarah.
Rindu pulang
ke rumah yang selalu kita tinggali bersama.
Rumah kecil yang berputar diam-diam
di tengah keheningan kosmos.
Rumah yang tak meminta kita menjadi seragam.
Hanya meminta kita cukup bijaksana
untuk tidak membakarnya.
Sebelum peluit terakhir benar-benar dibunyikan.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment